Laporan Penelitian

Tradisi Gubrekan  Dusun Pencar Sindumartani Ngemplak Sleman Yogyakarta

(Kajian Antropolinguistik)

Oleh: Kartika N. Nugrahini

Pendahuluan

          Bahasa merupakan sistem lambang yang arbitrer dan konvensional yang digunakan untuk berkomunikasi pada masyarakat. Sedangkan antropologi adalah ilmu tentang manusia, khususnya tentang asal-usul, aneka warna bentuk fisik, adat istiadat, dan kepercayaannya pada masa lampau (KBBI). Antropolinguistik membahas tentang kedua jenis ilmu tersebut. Kebudayaan menurut Koentjaraningrat  (1990:180) adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik ciri masyarakat dengan belajar.

         F. Boas mengatakan bahwa kebudayaan mencakup seluruh manifestasi kebiasaan sosial dari suatu masyarakat, reaksi-reaksi seorang individu yang timbul karena pengaruh kebiasaan di mana ia tinggal dan hasil kegiatan manusiawi sebagaimana ditentukan oleh kebiasaan itu (Sutrisno, 1983:8).

        Unsur-unsur kebudayaan seperti yang dikatakan oleh Koentjaraningrat merupakan unsur yang sangat melekat di masyarakat. Antar unsur membentuk hubungan sebab-akibat. Ketiadaan satu unsur akan membuat perubahan pada unsur yang lain.

        Makalah ini akan membahas tentang tradisi gubrekan. Tradisi gubrekan adalah jenis selamatan hewan ternak, yaitu sapi atau kerbau. Tradisi gubrekan merupakan salah salah satu tradisi yang masih dilestarikan oleh masyarakat di Dusun Pencar, Sindumartani. Hal yang menarik dari penelitian ini adalah perlakuan masyarakat kepada sapi. Jika biasanya yang dirayakan ulang tahunnya adalah manusia, maka dalam tradisi ini yang ulang tahun adalah sapi.

        Alasan lain diadakannya penelitian ini yaitu untuk mengetahui keterkaitan antara unsur-unsur kebudayaan seperti yang telah dirumuskan oleh Koentjaraningrat. Selain itu untuk memperkenalkan kepada masyarakat saat ini yang tidak mengerti tentang tindakan-tindakan budaya yang sampai saat ini masih ada. Untuk mendapatkan informasi terkait dengan gubrekan, peneliti melakukan wawancara kepada beberapa narasumber.

Sejarah Gubrekan

        Tradisi gubrekan sudah ada sejak zaman dahulu dan masih dilestarikan oleh masyarakat di sekitar Gunung Merapi. Seperti yang sudah diketahui, bahwa kebudayaan Hindu membawa pengaruh yang sangat kuat terhadap kebiasaan masyarakat di Indonesia. Bahkan kebiasaan itu terbawa ketika agama Islam mulai masuk. Salah satu tradisi Hindu yang sampai sekarang masih ada yaitu gubrekan. Masyarakat zaman dulu meyakini bahwa dunia ini ada yang memelihara. Keyakinan mereka adalah apa yang pada saat ini disebut sebagai animisme dan dinamisme.

        Diceritakan bahwa pada zaman dulu dunia ini dipelihara oleh Dadung Awuk. Dalam epos wayang diceritakan bahwa Dadung Awuk adalah seorang raksasa penggembala kerbau Andanu milik Betari Durga. Penjaga ini selalu menjaga kerbau-kerbau tersebut di hutan Krendawahana. Namun akhirnya Dadung Awuk mengabdi kepada Werkudara karena berhasil dikalahkan dalam sebuah pertarungan. Masyarakat zaman dulu percaya bahwa Dadung Awuk adalah pemelihara kerbau/sapi. Maka dari itu mereka menaruh kepercayaan kepada Dadung Awuk sebagai pelindung hewan ternaknya.

        Setelah agama Islam masuk, keyakinan yang ada dalam masyarakat mulai berubah. Masyarakat menganggap bahwa penguasa para hewan adalah Nabi Sulaiman. Dia dianggap sebagai penguasa hewan karena diberi mukjizat oleh Allah berupa dapat berbicara dengan semua hewan. Sebagai masyarakat yang beriman, masyarakat mengadakan sedekah melalui tradisi gubrekan.

Pelaksanaan

        Gubrekan dilaksanakan mulai hari ke tujuh setelah dua hari raya Idul Fitri. Apabila dalam masyarakat itu banyak yang akan mengadakan gubrekan, biasanya kedatangan digilir dari rumah ke rumah dengan hari atau jam yang berbeda. Tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena masih diberi hewan ternak yang sehat. Maksud lain diadakannya tradisi gubrekan ini juga sebagai wujud permintaan sang pemilik hewan agar hewan tersebut diberi kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan.

    Urutan pelaksanaan selamatan ini cukup panjang. Pagi hari, kaum perempuan mulai membuat makanan untuk sedekah berupa jadah, kupat, lepet, sompil, dan sambel gepeng. Beberapa masyarakat menambahkan sayur kentang atau sayur tahu. Biasanya para laki-laki membantu untuk menyiapkan daun bambu dan daun kelapa (janur). Selain itu juga membantu untuk membuat kupat (ketupat).

        Jadah dan lepet terbuat dari beras ketan dicampur dengan kelapa parutan. Lepet dibungkus dengan daun kelapa yang masih muda (janur) dan dibentuk memanjang, kira-kira 5-10 Cm, kemudian direbus. Sompil dan kupat terbuat dari beras jawa (beras biasa). Sompil dibungkus dengan daun bambu yang berukuran besar dan dibentuk segitiga, dan direbus seperti lepet. Sedangkan sambel gepeng terbuat dari kedelai yang ditumbuk dan ditambah bawang sebagai bumbu perasa. Semua jenis makanan tersebut dimasukkan ke dalam besek.

        Sore hari, ketika semua jenis makanan sudah selesai dimasak, sebagian kecil dari makanan itu akan diberikan kepada sapi untuk pakan (makan). Hal itu dilakukan karena sebagai hewan yang diselamati, juga harus menikmati makanan yang dibuatkan untuknya.

      Ketika masyarakat sudah selesai menunaikan ibadah shalat Maghrib, bapak-bapak yang sudah diundang akan datang ke rumah pemilik hajat. Setelah semuanya datang, tuan rumah akan memimpin doa keselamatan yang biasanya hanya berupa kata-kata dari bahasa mereka. Beberapa tuan rumah yang bisa bahasa Arab, akan menambahkan doa dalam bahasa Arab. Terkadang, jika pemilik rumah adalah orang yang memiliki pengetahuan terkait dengan sejarah gubrekan, akan menceritakan kepada para tamu. Biasanya cerita yang dikisahkan adalah tradisi gubrekan yang dikaitkan dengan Nabi Sulaiman yang dianggap sebagai penguasa para hewan. Hal itu dilakukan agar tradisi tersebut tidak luntur di masyarakat dan tidak menyimpang dari agama Islam (tidak dianggap syirik).

     Setelah tuan rumah selesai mendoakan dan bercerita, tuan rumah mempersilakan para tamu untuk membawa pulang besek tersebut.

Gubrekan dan Pola Hidup Masyarakat

        Letak Dusun Pencar yang secara geografis berada di samping Sungai Gendol, membuat masyarakat di wilayah ini didominasi dengan mata pencaharian sebagai petani. Agar dapat melangsungkan hidupnya, masyarakat membutuhkan peralatan sebagai penunjang profesinya. Misalnya sapi atau kerbau, garu, cangkul, caping, dan jenis peralatan tradisional lainnya. Selain itu, sistem organisasi juga ada dalam masyarakat ini, yaitu berupa pembagian wilayah yang dipimpin oleh ketua RT. Pada tingkat sistem organisasi ini biasanya masyarakat akan saling berkunjung apabila ada acara.

        Ketika acara gubrekan, biasanya pemilik hajat mengundang lingkungan se-RT, baik yang memiliki sapi maupun tidak. Cara mengundangpun masih dengan cara yang sederhana, yaitu dengan datang dari rumah ke rumah untuk meminta kehadirannya. Biasanya, pemilik hajat akan datang sendiri, atau akan meminta bantuan kepada tetangga untuk membantunya. Hal ini dilakukan karena dianggap memiliki tingkat kesopanan yang tinggi.

     Orang yang mengerti tentang sejarah gubrekan, adalah orang yang mendalami agama Islam dan kebudayaan dengan baik. Hal itu dibuktikan dengan adanya beberapa masyarakat yang masih mengetahui sejarah gubrekan dan kaitannya dengan Nabi Sulaiman, bukan Dadung Awuk. Namun sayangnya saat ini makna yang ada pada jenis makanan di gubrekan sudah tidak diketahui lagi oleh masyarakat luas. Masyarakat awam akan menganggap bahwa melaksanakan gubrekan adalah salah satu tradisi yang harus dilestarikan, dan tidak harus mengetahui makna yang ada di dalamnya. Jadi, orang yang berbudaya bukan berarti meninggalkan orang yang meninggalkan agama, begitu juga sebaliknya.

        Agama juga memiliki kaitan dengan seni. Hal ini tentu saja sesuai dengan pendapat Kuntowijoyo (2006:70) yang mengatakan bahwa “… agama dan seni pada mulanya secara empiris mempunyai hubungan yang erat. Agama mempunyai unsur ritual, emosional, kepercayaan, dan rasionalisasi. Dengan dua unsur pertama, menurut Read, agama dan seni saling berkaitan…”

        Dalam sebuah buku dikatakan bahwa suatu institusi atau kegiatan budaya dikatakan fungsional manakala memberikan andil bagi adaptasi atau penyesuaian sistem tertentu, dan disfungsional apabila melemahkan adaptasi (Kaplan & Manner, 82). Berdasarkan kenyataan di masyarakat  Dusun Pencar dapat dilihat bahwa kegiatan budaya bersifat fungsional karena di dalamnya terjadi kontak sosial sehingga memungkinkan terjadinya kelangsungan kebudayaan dalam masyarakat itu.

Penutup

        Berdasarkan pembahasan yang sudah dilakukan di atas dapat disimpulkan bahwa bahasa dan kebudayaan memiliki hubungan yang erat. Karena bahasa merupakan salah satu dari tujuh unsur budaya. Antara satu unsur dengan unsur lainnya memiliki keterkaitan sehingga membentuk lingkaran kebudayaan.

Daftar Pustaka

Kaplan, David & A. Manners. 2003. Teori Budaya. Diterjemahkan oleh Landung Simatupang dari The Theory of Culture. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Koentjaraningrat. 1990. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Kuntowijoyo. 2006. Budaya dan Masyarakat. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Sutrisno, Slamet. 1983. Sedikit Tentang Strategi Kebudayaan Nasional Indonesia. Yogyakarta: Liberty.

Katakan Sesuatu Tentang Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s