Khotbah di Atas Bukit: Antara Aku dan Tuhan

Foto-0507Informasi buku:

Judul                : Khotbah di Atas Bukit

Pengarang        : Kuntowijoyo

Penerbit           : Yayasan Bentang Budaya

Tahun              : 1997

Tebal               : 266 halaman

ISBN                : 979-8793-33-1

Barman yang tua pergi ke gunung bersama Popi, perempuan muda cantik yang memang sudah disediakan oleh anaknya. Hidup menampilkan sepotong demi sepotong rahasianya. Sunyi menjadi bermakna dan pencarian akan hakikat hidup menyebabkan liburan Barman menjadi perburuan spiritual yang indah. Ketika orang-orang pasar memintanya untuk berkhotbah, dia bingung ingin menyampaikan apa.

Desakan masih terus berdatangan dan akhirnya dia meminta ingin berkhotbah di suatu tempat. Dengan menaiki kuda, Barman berjalan memimpin pengelanaan yang sebenarnya dia sendiri tidak tahu di mana tujuan perjalanan itu. Semakin jauh perjalanan ditempuh, semakin banyak pula orang-orang yang mengekor di belakangnya. Ketika dirinya sudah merasa lelah, si tua berhenti di atas bukit, bersama para pengikutnya. Dengan bahasa yang lembut dan penuh makna, Kuntowijoyo membuka mata hati melalui rangkaian cerita yang pada akhirnya bernilai spiritualitas.

Apa yang dicari dalam Hidup

Orang diberi Tuhan anugrah, salah satunya adalah nafsu. Namun, bagaimana cara kita menyikapi nafsu? Ya, Barman yang tua memiliki hasrat kepada Popi. Usia yang sudah sampai kepada akar, tidak dapat memuaskan dirinya, juga si perempuan cantik yang dikaguminya. Malam-malamnya selalu dilalui dengan kekesalan sekaligus kekecewaan: mengapa dia bertemu Popi ketika sudah tua?

Maka, untuk menghilangkan kekecewaan tersebut, Barman lebih memilih untuk menghilangkan hasrat kepada satu-satunya orang—dan perempuan yang serumah di dinginnya gunung. Untuk selanjutnya, Popi hanya semacam pelayan cantik yang tidak berarti apa-apa, termasuk hiburan. Kesadarannya atas usia, membuat lelaki tua berusaha mencari hiburan. Dia pergi berkuda untuk melihat pemandangan. Siangnya pulang, untuk makan masakan Popi.

Suatu ketika, dia bertemu dengan seorang lelaki yang membuat dirinya merasa berbeda. Humam. Perubahan itu dilihat oleh Popi, dan kemudian kata lelaki itu:

“… Kalau hidup itu selesai bereslah. Tetapi ia tak selesai-selesai. Seperti keabadian berada di depanku. Waktu, waktu, sekarang memenjarakanku. Sementara aku tak ingin apa-apa dalam hidup, ia meminta aku untuk berpikir… (hl. 103)”

Barman Tua tidak tahu untuk apa dia hidup. Untuk apa usia tua ini? Bertemu dengan Humam, membuatnya iri. Hingga kemudian di suatu ketika Humam telah ditemukan meninggal dalam ketenangan yang semakin membuat Barman cemburu: kapan hidupnya selesai? Perenungan membuat dirinya tidak seperti manusia. Mengasingkan diri adalah cara yang lebih tepat bagi Barman. Dia semakin mengacuhkan Popi, si mainan cantik.

Ketika telah lama dia merenung, akhirnya dia menunggangi kuda dan berjalan ke arah pasar. Di sana, dia bertemu dengan beberapa orang yang sedang tertidur—karena dia datang saat malam hari. Kepada mereka, dia tanyakan: Berbahagiakah engkau? Barman mencari kebahagiaan, namun berbondong-bondong orang kemudian mencari Barman karena pertanyaan itu membuat mereka terteror, meskipun sebenarnya tanpa alasan. Mulailah rombongan itu mengikuti kemanapun langkah lelaki yang seolah menjelma Jesus. Setiap ada orang yang dilewati rombongan pengikut Pangeran Barman, tak mungkin mereka hanya berdiam diri. Meskipun tanpa banyak pertanyaan, mereka ikuti saja rombongan itu. Mereka merasa senang dan tenang ketika mengikuti Barman. Padahal, pemimpin dadakan itu tak punya tujuan!

Ketika mencapai puncak sebuah bukit, mereka mempertanyakan apa yang bisa membuat mereka bahagia. Mereka meminta Barman mengatakan apapun, karena apa yang dia katakan pasti akan membuat mereka bahagia. Karena Barman tak memiliki pengetahuan apapun tentang kebahagiaan, maka berserulah ia “Bunuhlah dirimu!”. Barman terjun ke jurang bersama kudanya!

Maka, apakah kebahagiaan akan tercapai jika hanya apabila kita mengakhiri hidup? Ya, mungkin seindah itulah gambaran kematian. Tak ada kematian yang membuat kesengsaraan, kecuali bagi mereka yang hidup.

Novel yang terbagi menjadi delapan bagian ini akan membawa bahagia dengan efek spiritualitas mencengangkan!

Katakan Sesuatu Tentang Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s