Kritikus Adinan: Kegalauan Penulis

 Data Buku

Judul           : Kritikus Adinan

Penulis        : Budi Darma

Tahun          : 2001

Penerbit      : Bentang Budaya

Ketebaalan : xv +292

Budi Darma, kali ini dalam kumpulan cerpennya yang berjudul Kritikus Adinan memberikan hidangan yang mungkin agak membosankan bagi setiap orang melalui tokoh-tokoh yang memiliki kehidupan bermacam-macam. Namun bagi saya, tokoh-tokoh yang ada dalam cerpen tersebut menyiratkan kepribadian Budi Darma yang ingin lari dari realitas dengan melalui cerpennya. Tapi sayang, dia gagal. Karena di dalam cerpen-cerpennya pun dia tidak bisa mengabaikan lingkungan.

Misalnya pada cerpen yang berjudul Pengarang Rasman yang selalu mengemukakan ‘maaf saya tidak punya pendapat’ ketika banyak orang membutuhkan jawabannya mengenai segala hal. Karena kejadian itu selalu berulang, maka para wartawan mengarang jawaban bahkan hingga jawaban itu mencemarkan nama baik pengarang Rasman. Dia tetap tidak mau angkat bicara, hingga di akhir kisah yang menggantung itu. Cerpen-cerpen sejenis juga dikemas dengan model yang sama namun berbeda konteks.

Keterombang-ambingan

Cerpen ‘Kritikus Adinan’ yang menjadi kepala dari cerpen-cerpen yang lain juga memiliki permasalahan yang sama dengan cerpen sebelumnya—sebelumnya saya katakan bahwa Budi Darma seorang pengarang yang piawai karena menciptakan cerpen dengan jumlah 55 halaman tanpa memberikan efek bosan. Kritikus Adinan tidak mengetahui apa kesalahan yang dibuat ketika seorang pegawai pengadilan datang dengan membawa surat panggilan. Bahkan sampai dia selesai disidang, dia tetap tidak tahu kesalahan yang sebenarnya. Mengapa penulis berkutat pada satu permasalahan yang sangat mendasar?: arus.

Cerpen yang dibuat juga menyiratkan kemunafikan. Misalnya pada ‘Laki-Laki Setengah Umur’. Selain memiliki permasalahan individu yang serba rumit karena dampak lingkungan, dia menjadi korban penipuan meskipun berusaha lari dari kepungan masalah sosial dan menciptakan dunianya sendiri dengan tidak membedakan siang dan malam: yang secara simbolis mengungkapkan keadaan manusia yang seperti mesin, bekerja sesuai aturan tanpa ada perubahan dikesehariannya. Di akhir cerita, dia terjebak karena kehalusan birokrasi yang ketika itu menjelma sebagai para pengagumnya.

15 cerpen yang terkumpul dalam judul Kritikus Adinan ini memberi ilham kepada saya bahwa betapa sulitnya seseorang keluar dari dunia yang serba chaos ini. Bahkan, dia tidak memberikan solusi terhadap permasalahan ini. Dapatkah kita keluar dari kemunafikan dunia saat ini?

Katakan Sesuatu Tentang Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s