Dimensi Petualangan Zarah

 

Gambar

Judul                  : Partikel

Pengarang        : Dewi Lestari (Dee)

Penerbit            : Bentang

Tempat               : Yogyakarta

Tahun                 :2012

Ketebalan          : xiii + 500 halaman

Genre                  : Sastra

 

 

 

Setelah menanti cukup lama episode Supernova, akhirnya saya dapat memiliki buku tersebut. Tidak seperti tiga episode sebelumnya, Partikel sungguh membuat saya tercengang dan tidak berhenti untuk membacanya. Dimulai jam tiga sore di perpustakaan, pulang kemudian mandi, dan baru tidur jam tiga pagi. Komplitnya, butuh waktu minimal 10 jam. Saya sama sekali tidak letih membaca buku ini, dan setelah selesaipun, tak memberikan dampak negatif terhadap tubuh.

Zarah, tokoh utama dalam novel ini dibuat defamiliar. Masa kecilnya tak mendapatkan bangku sekolah. Dia baru mau sekolah ketika usianya 17 tahun−dan sebab guru satu-satunya yang dia miliki menghilang. Meskipun tak masuk jenjang pendidikan, pengetahuan Zarah melebihi apa yang diketahui anak seusianya. Jika malam hari orang tua mendongeng tentang Putri Tidur, Zarah diantar tidur dengan gambar berbagai anatomi oleh ayahnya. Sikap Firas (ayah) yang konfrontatif terhadap pendidikan sempat membuat aura dingin antara dirinya dan Abah, serta istrinya sendiri. Aisyah, adik angkat sekaligus istri dari Firas sampai kehabisan akal untuk membujuk Zarah agar mau sekolah.

Dalam dunia nyata, adakah sosok seperti Firas? Adakah seorang ayah yang tidak mempercayai dunia pendidikan formal dan lebih memilih mengajar sendiri dengan konsekuensi masa depan tak dapat jadi PNS karena tak ada sertifikat?

Ada satu paragraf yang perlu saya kutip dari kata-kata yang dilontarkan Aisyah ketika dia berada di puncak kemarahan:

 

“Sejak kesurupan setahun yang lalu, kamu berubah jauh, Firas. Aku tahu kamu dari dulu cinta sama ilmu, tapi sekarang kamu itu sudah syirik. Makanya kamu pengangguran, kita jadi miskin, semua gara-gara kamu lupa sama Allah.”

 

Benar, Firas memang dididik agama sejak kecil oleh Abahnya. Namun, sejak dia menjadi dosen di IPB dan mulai menggemari penelitian tentang fungi, semuanya berubah. Diam-diam dia juga mencari kebenaran Tuhan. Maka Aisyah mengatakan syirik, karena Firas juga tak mengajarkan agama kepada Zarah. Abah dan umi semakin marah. Jarak antara mereka semakin terbentang jelas.

Zarah adalah korban percobaan ayahnya. Lingkungan mungkin menganggap Firas gagal mendidik Zarah, maka hidup Zarah terpontang-panting nomaden. Namun tidak begitu menurut Zarah. Ayahnya telah berhasil mendidik Zarah hingga dirinya berani mandiri, memilih jalan hidupnya tanpa ada kekangan dari siapapun, termasuk ibunya. Tapi, pada kehidupan Zarah yang bebas tersebut, sebenarnya hanya ada satu tujuan yang hendak dicapai: menemukan Ayah yang sudah bertahun-tahun menghilang. Dan baginya, prestasi-prestasi tersebut hanya sebuah bonus warna kehidupan.

Pergi ke London dan mengikuti A-Team adalah pilihan tak terduga yang ada dalam diri Zarah. Kepergian tersebut mengajarkan banyak hal kepada perempuan keturunan Sunda-Arab itu. Di sana, ia menemukan sahabat lamanya, Kosolochukwu, dan Storm–kekasih pertamanya. Di sana, ia juga bertemu dengan Simon Suhardiman, pengirim kamera yang menjadi satu-satunya petunjuk keberadaan Ayah yang ia miliki. Namun, ternyata jalinan cerita itu tak berakhir seperti yang pembaca duga. Dan perjalanan Zarah dalam upaya pencarian ayahnya semakin panjang dan tak ada petujuk apapun yang ia punya.

 

Oleh: Kartika N. Nugrahini

Katakan Sesuatu Tentang Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s