Ryunosuke: Keyakinan dalam Bingkai Cerita

Oleh Kartika N. Nugrahini

 Judul               : Kappa
Penulis             : Ryunosuke Akutagawa
Penerjemah      : Andi Bayu Nugroho
  Penerbit           : Interprebook
 Tahun             : 2009
 Tempat            : Jakarta
Ukuran             : 170 hlm., 12 x 19 cm
ISBN               : 978-979-18388-4-9

Kumpulan cerpen Cinta Tak Pernah Mati diawali oleh cerpen karya Ryonosuke Akutagawa, pengarang legendaris dari Jepang. Ceritanya sangat singkat, juga padat. Hanya dua tokoh yang disebutkan di dalamnya. Sang Budha dan Kandata. Cerpen yang sangat sederhana ini menceritakan dunia setelah mati. Saya langsung menjurus cerpen ini sebagai kategori cerpen religi−bercerita tentang kebaikan dan keburukan di mata Tuhan.

“Suatu Hari di Surga”. Berdasarkan judulnya, terlihat bahwa sudut pandang yang diambil oleh penulis adalah tokoh protagonis. Sebuah tempat yang menjadi tujuan bagi setiap orang dari berbagai agama yang berbeda. Melalui judul tersebut, pengarang bercerita tentang Budha, tokoh yang tinggal di Surga, melihat Kandata, tokoh yang karena perbuatan buruknya terjerumus ke Neraka. Ingin sekali Budha menolong Kandata yang disiksa, karena mengingat satu kebaikan yang dilakukan Kandata ketika dia menyelamatkan nyawa seekor laba-laba. Ketika itu, ada seekor laba-laba di dekat Budha, tengah membuat sarang dengan jaring-jaringnya. Tanpa pikir panjang, dia mengambil seutas benang tersebut dan melemparkannya ke arah Kandata. Mantan penjahat itu heran, bagaimana bisa benang laba-laba yang bening, tipis, dan kecil itu kuat menahan tubuhnya yang berat. Kandata hampir saja terselamatkan karena seutas benang milik laba-laba yang terjuntai ke arahnya, kalau saja dia tidak egois melarang para pendosa lain yang ikut menaiki benang itu seperti dirinya. Benang tipis milik laba-laba itu akhirnya gagal menyelamatkan Kandata dari siksa neraka.

Cukup simpel hal yang dikatakan melalui cerita ini, yaitu kebaikan seseorang tidak ada artinya di mata Tuhan ketika kita tidak bisa membuat orang lain bahagia. Terkadang kita tidak sadar bahwa di balik kebahagiaan, sebenarnya ada suatu mediasi antara Tuhan dan ‘Aku’. Kita terlalu egois, bahwa kebahagiaan yang diperoleh tidak lain karena usaha sendiri. Terkadang juga kehidupan membuat kita serakah, ingin merasakan kebahagiaan itu sendiri.

Apa yang sebenarnya ada di pikiran Ryu ketika ia memilih ide ini? Seorang pengarang yang mati karena bunuh diri. Apakah dia merasa jenuh melihat kehidupan yang dipenuhi kepura-puraan?

Saya jadi teringat sebuah karya lain dari Ryu, yaitu Kappa. Di sampul buku itu tertulis ungkapan dari si pengarang “Kappa lahir dari kemuakan saya dengan banyak hal−khususnya dengan diri saya sendiri”.

Kappa adalah seekor hewan yang cukup terkenal dalam mitologi di Jepang. Wujudnya menyerupai manusia (memiliki jari, dengan tubuh sekitar satu meter, tentang makanan yang dikonsumsi, memiliki banyak versi). Novel Kappa yang ditulis Ryu, bercerita tentang seorang manusia lelaki yang tersesat memasuki dunia kappa. Secara keseluruhan, kebiasaan-kebiasaan kappa adalah kebiasaan yang juga dilakukan oleh masyarakat Jepang pada umumnya. Di dalamnya ada pembagian kelas strata sosial, ada dokter, penyair, jutawan, janda, dan lain-lain.

Bagian yang menarik dari novel Kappa adalah ketika arwah seorang penyair (Tok) memasuki tubuh kappa lain (Nyonya Hop). Si arwah menceritakan bahwa arwah seseorang setelah mati ternyata masih memiliki keinginan untuk melihat reputasinya setelah meninggal. Berikut kutipannya.

T : Apakah kau atau arwah-arwah yang lain masih tetap mencari kemasyhuran setelah mati?

J: Bagi diriku, setidaknya aku sadar bahwa aku tidak dapat menahan diriku untuk mengidam-idamkan kemasyhuran. Dan−sebagai contoh yang berlawanan−seorang penyair Jepang yang telah kutemui justru tidak menghiraukan kemasyhuran setelah matinya seseorang.

(Akutagawa, 2009:105)

Itu hanya kutipan di awal percakapan antara roh hantu Tok dengan komunitas Kappa. Banyak kata-kata yang membuat saya tercengang. Kita selalu tahu, bahwa sebuah karya sastra tidak mungkin lepas dari ideologi/jalan pikiran si penulisnya. Apabila benar bahwa Ryunosuke menuliskan percakapan itu dengan sadar, tentulah novel ini adalah bagian dari kegelisahan penulis semasa hidupnya. Dan kenyataan itu membuat saya bergidik!

Ungkapan itu semakin meyakinkan saya bahwa Ryunosuke Akutagawa adalah lelaki yang semasa mudanya melihat segalanya dengan cermat. Dia mempertanyakan semua kebenaran dan akhirnya dia dibuat gila oleh pikiran-pikirannya sendiri.

Membaca tulisan-tulisan Ryu, membuat saya berpikir, kenyataan dan halusinasi memiliki jarak yang sangat tipis. Fiksi dan realitas tidak memiliki fakta yang jelas ketika sudah dituliskan. Hanya orang ‘sakit’ yang bisa melihat dunia dengan pikiran yang peka. Dan keyakinan menjadi hal yang rentan untuk dikaitkan dengan keduanya.

Sumber

Akutagawa, Ryunosuke. 2009. Kappa. Diterjemahkan dari novel Kappa oleh Andi Bayu Nugroho. Yogyakarta:

Interprebook.

Kurnia, Anton (Peny.). 2011. Cinta Tak Pernah Mati. Jakarta: Serambi.

Katakan Sesuatu Tentang Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s