Wacana Drupadi

Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menuntaskan pembacaan buku berjudul Drupadi (2017) yang ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma. Bagi para pembaca yang telah mengetahui cerita pewayangan Mahabharata, mungkin agak kecewa dengan terbitnya novel ini. Mengapa?

Seno Gumira Ajidarma, yang saya agung-agungkan namanya di antara barisan sastrawan Indonesia karena kekhasan cara berceritanya, karena penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan atas realitas yang dilihat dan dirasanya―dalam karya-karya sebelumnya, ternyata tidak memberikan interpretasi yang baru tentang sosok Drupadi dalam buku bersampul warna ungu ini. Pun alur yang dibangun, tidak membuat saya merasa bangga. Hal ini mungkin dikarenakan bahwa novel ini pada awalnya hanyalah cerita bersambung yang dimuat dalam Majalah Zaman sehingga ketika itu tidak dimungkinkan untuk melakukan penyimpangan-penyimpangan. Namun, ketika kemudian Drupadi dibungkus lagi dalam wujud buku, dilarangkah jika dikemas dengan gaya baru, sebab ini bukan lagi majalah yang alurnya harus berurutan sebab tidak mungkin ada lembaran yang ‘hilang’, kecuali karena masalah teknis percetakan? (Hehe)

Satu hal yang membuat kekecewaan itu menghilang tentu saja karena kepiawaian SGA dalam meramu kata-kata sehingga menghadirkan tokoh perempuan yang tidak lemah seperti dalam kutipan berikut.

Kemarahan adalah hak manusia, dan seorang ksatria tidak boleh melupakan kewajibannya. Para Pandawa merasa dirinya suci dengan menahan kemarahannya menjadi kesabaran semu. Itu suatu pengingkaran terhadap kehidupan. Kita mempunyai hak untuk suatu kemarahan yang beralasan, dan aku menggunakan hak seorang perempuan.

Pernyataan tersebut diutarakan oleh Drupadi kepada orang-orang yang sepihak dengannya sedang berkumpul untuk mencari cara supaya Indraprastha dapat direbut kembali dari tangan Kurawa yang telah berbuat curang. Menurut saya, itulah klimaks dari kesabaran seorang perempuan, ketika bertahun-tahun suaranya tidak pernah diangkat dan tidak diberi kesempatan. Selama ini, suaminya, para Pandawa hanya mengalah kepada Kurawa dengan alasan mereka masih bersaudara. Drupadi merasa tak mendapatkan tempat selama ini, padahal ia menyerahkan takdirnya kepada Pandawa. Bukankah Pandawa yang menyebabkan Drupadi menjalani penderitaan?

Jika saja ketika itu Arjuna tidak mengikuti sayembara di Kerajaan Pancala untuk mendapatkan putri Drupada, jika saja Yudhistira tidak mengumbar keluguannya untuk bermain dadu, jika saja Pandawa tidak sombong sehingga menerima kekalahan dan menyimpan Indraprastha saat pamannya, Drestarasta menyerahkan tanpa syarat, mereka tidak akan memiliki kedudukan yang serendah itu. Namun, itulah yang dinamakan dengan suratan. Manusia hanya bisa menjalani, “sesuai peran”, kata Seno dalam buku ini.

Membaca buku ini tidak membuat bosan, sebab tidak sekadar barisan kata yang ada di dalamnya, namun ada beberapa ilustrasi yang mendukung isi cerita. Sebuah buku yang spesial, sebab ditulis oleh sastrawan, dan di dalamnya pun memuat ilustrasi yang dilukis oleh Danarto, pelukis ternama di Indonesia. Waw! Senangnya hari Seno!

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Minimal, dengan terbitnya buku ini, pembaca yang malas mengengok epos lama yang melegenda, mengetahui sedikit alur dan tokoh-tokoh di dalamnya. Jika dalam Kitab Omong Kosong SGA mencuplik dan meramu epos Ramayana dengan maksimal dan membuat pembaca mencintai karya-karyaya, mungkin saat ini ia sedang ingin mengambil bagian dari sejarah, yaitu menerbitkan novel yang berfokus pada setiap tokoh di dalam epos Mahabharata. Sekarang muncul novel Drupadi, besok mungkin Sangkuni yang jahat, atau Srikandi yang kaut. Mungkin, dan itu ide yang baik, bukan?

 

Identitas buku

Judul: Drupadi

Penulis: Seno Gumira Ajidarma

Tahun: 2017

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Halaman: v+149

ISBN: 978-602-03-3687-9

Iklan

2 thoughts on “Wacana Drupadi

Katakan Sesuatu Tentang Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s