Siti Zaitun dan Pasar: Sosok Perempuan Berkeadilan

…. Sebentar lagi engkau akan menjadi orang lain, Nak. Setiap orang harus sadar akan kedudukannya. Tukang gerobak boleh tertawa keras. Tetapi seorang kepala pasar tidak. Seorang guru tidak. Lagi pula yang penting, ingatlah bahwa kau orang Jawa. Ketika engkau gembira, ingatlah pada suatu kali kau akan mendapat kesusahan. Apalagi menertawakan nasib buruk orang lain, Nak. Jangan sekali-kali, jangan. Orang yang berpangkat harus berbuat baik, suka menolong. …

(Kuntowijoyo)

Pasar, novel karya Kuntowijoyo jelas tidak diragukan lagi seberapa hebatnya dan bagaimana posisinya saat ini. Pada terbitan yang pertama, saya tidak dapat mendapatkan buku tersebut karena memang ketidakadaannya di pasaran. Beruntung, di tahun ini Divapress menerbitkan ulang sehingga tanpa pikir panjang, menambah koleksi rak buku.

Novel ini setting dalam novel ini adalah Pasar Gemolong, sebuah pasar yang ada di Jawa tengah. Di dalamnya kita dapat melihat berbagai strata sosial yang ‘mengisi’ pasar, seperti wong cilik, pejabat, pengusaha, priayi, dan sebagainya. Memang, mereka disatukan dalam satu tempat, yaitu pasar. Takpelak lagi, pasti ada konflik di pasar sebab setiap orang memiliki kepentingan masing-masing. Dalam novel ini, diceritakan seorang pengusaha gaplek beroposisi dengan seorang mantri pasar―Kasan Ngali dan Pak Mantri.

Pak Mantri, sebagai penjaga pagar nilai-nilai tradisi, harus selalu berhadapan dengan orang yang berusaha menerobos dan mengobrak-abrik tananan itu. Kasan Ngali diceritakan sebagai orang yang curang dalam berjualan, suka kawin-cerai, sombong, dan benci burung dara. Lho, apa hubungannya nilai tradisi dengan burung dara? Jelas ada! Bahkan sangat lekat!

Di pasar, ratusan ekor dara bertebaran di udara, di los, di jalan, bahkan di barang dagangan! Ah, semua orang pastilah diajak jengkel karenanya, apalagi Kasan Ngali, si musuh bebuyutan. Mulailah ia menjadi bara dalam sekam, menggiring pedagang yang takpernah menikmati untung untuk pindah ke pasar ilegalnya, namanya juga Pasar Gemolong. Nah, siapa yang cari ribut?

Pemerintah terkadang memang tak mau tahu. Tahunya uang rakyat mengalir. Terbakar juga hati Pak Mantri karena ulah si dia. Apalagi, si dia juga ingin mencuri Siti Zaitun, pegawai Bank Pasar. Padahal, Siti Zaitun kan idolanya.

Di sinilah Si Zaitun memainkan perannya sebagai Ratu Adil, meskipun secara samar dikerjakan oleh penulis buku ini. Zaitun yang dielu-elukan setiap orang karena keramahannya, kecantikannya, kepintarannya, dan kesosialannya, ditempatkan sebagai orang yang memperuncing permasalahan dua laki-laki tua. Namun, Zaitun tak mau begitu saja menerima takdir. Ia memberontak, awalnya dengan halus. Namun, karena dirasanya cara itu tak memberikan efek apa pun, cara kasar mulai dilakukan.

Mengenai hubungannya dengan Pak Mantri―yang dikatakan sebagai dua orang sahabat―awalnya berjalan dengan baik dan keduanya saling menjaga perasaan masing-masing. Namun, karena Bank Pasar terkena dampak serius adanya burung dara yang selalu ‘menutuli’ dagangan pasar dan mengotori bank karena dijadikan sebagai tempat berlindung saat bulan muncul, Zaitun pun mengiyakan perkataan para pedagang yang merugi dan lebih senang jika burung itu dimusnahkan saja. Bahkan, Zaitun menggoreng burung dara dan masakan itu diberikan ke Pak Mantri! Ah, ironis sekali!

Sementara itu, hubungannya dengan Kasan Ngali, si pengepul gaplek, dia sebenarnya sejak awal sudah merasa risih dengan kehadirannya. Namun duda lima wanita itu tak tahu malu, terus saja mengejar, mencari muka, dan sengaja memanas-manasi Pak Mantri. Dikira Pak Mantri ada rasa. Segala cara dia lakukan, dari membuka pasar baru lengkap dengan bank kredit sampai membeli mobil―meski takbaru. Zaitun tetap tak mau.

Sebagai pendatang di tempat itu, dia merasa memiliki kewajiban untuk memperbaiki keadaan. Dia berkongkalikong dengan Paijo si tukang karcis, dan membujuk Pak Camat agar memperhatikan pasar itu. Hasilnya, Pak Mantri sadar atas kekukuhannya mempertahankan burung dara. Akhirnya dengan bijak ia mengumumkan bahwa burung dara itu milik semua orang dan berhak ditangkap. Namun, Kasan Ngali masih bersaing maunya. Burung dara yang sejatinya ingin dimusnahkan oleh Pak Mantri supaya pasar tetap hidup, digagalkan oleh si pemberontak: burung dara itu akan diambil alih kepemilikannya dengan cara membeli setiap burung dara yang ditangkap, kemudian memotong sedikit bulu ekornya sebagai penanda. Yungalahh, ukara apa iki. Masalah apa, ini.

Konflik terus saja berputar, hingga akhirnya Pak Mantri tak ambil peduli dan mengalihkan perhatiannya kepada pengembangan pasar. Akhir dari kebijakannya itu, pasar kembali ramai, Paijo diangkat menjadi mantri pasar, pengganti Pak Mantri. Zaitun? Ah, dia memang perempuan teladan. Ia memilih pergi karena tak mau terlalu lama menjadi sumber sengketa. Ia ingin menjadi perempuan yang bebas menentukan pilihan, sebab dia perempuan masa kini. Kasan Ngali? Jangan tanyakan bagaimana ia akhirnya sebab memang begitulah semestinya ganjaran bagi yang kurang bersyukur.


Data Buku:                                               WhatsApp Image 2017-03-23 at 14.26.28

Judul           : Pasar

Pengarang : Kuntowijoyo

Penerbit     : Divapress, Yogyakarta

Tahun         : 2017

Tebal           :iv+378 hlm

 

Iklan

2 thoughts on “Siti Zaitun dan Pasar: Sosok Perempuan Berkeadilan

Katakan Sesuatu Tentang Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s