Hotel Tua, Pengungkapan Kebenaran ala Budi Darma

 

Banyak orang, terutama yang kaya, tidak bisa membebaskan diri dari kerinduan masa lampau (Budi Darma, dalam Hotel Tua)

Pada 25 April 2017, adalah penanda genap 80 tahun usia Budi Darma, seorang maestro sastra Indonesia angkatan ’70. Hotel Tua mungkin adalah kado untuk dirinya, sebagai pengingat masa mudanya di luar negeri. Dalam usianya yang senja, profesor tersebut terus menginspirasi anak generasi untuk terus berkarya.

Latar tempat dalam kumpulan cerpen berjudul Hotel Tua didominasi Kota Bloomington. Tampaknya, kehidupan di sana benar-benar membuat dirinya produktif. Meskipun setting di luar negeri, nyawanya tetap ada di Indonesia, dadi wong Jawa. Misal dalam hal naming (penamaan): Tutiek Makara, Lastri Kemat (dalam cerpen ‘Pistol’); Dadang, Wilis, Yati (dalam cerpen ‘Pengantin’); atau Bejo (dalam cerpen ‘Kisah Pilot Bejo’). Ia juga mampu melahirkan karakter-karakter yang unik, tak tertebak, kocak[1].

Sebuah Cara

Hotel Tua tersusun atas 15 cerpen yang ditulis antara tahun 1970–2014. Dari kelimabelas cerpen tersebut, ada tiga cerpen yang secara spesifik membicarakan mata. Cerpen pertama berjudul “Derabat”. Dalam cerpen yang melibatkan hubungan antara manusia dengan burung tersebut, dideskripsikan mata yang:

… menyorotkan sinar jahat, nafsu mencuri, dan dorongan untuk merusak serta mencelakakan siapa pun, karena siapa pun baginya adalah benar-benar musuh (hlm. 40).

Cerpen tersebut bercerita tentang laki-laki penarik pedati yang di sepanjang perjalanan antara tempat pengambilan ikan hingga ke tempat penyetoran ikan bersahabat dengan burung-burung. Dia selalu menyiapkan satu wadah untuk mereka habisnya. Namun suatu ketika, ada seekor burung hitam yang datang untuk menyerangnya. Ia percaya bahwa burung itu akan berubah baik kepadanya apabila si penarik pedati menanamkan kebaikan.

Penceritaan tentang mata dilakukan pula oleh tokoh utama dalam cerpen “Mata yang Indah”. Cerpen ini berkisah tentang tokoh bernama Haruman yang mendapatkan pesan-pesan dari ibunya untuk melupakan ibunya dan melakukan perjalanan. Di perjalanan―saya katakan sebagai pengasingan―tersebut, ia merasakan bahwa orang-orang memberikan tatapan benci kepadanya, seolah ia pendosa. Bahkan, seekor burung pun ikut menghakiminya.

… lalu berusaha dengan susah-payah untuk menyerang mata saya. Entah mengapa, tepat pada saat cakar burung itu akan menghunjam ke mata saya, saya berhasil menutup wajah saya erat-erat dengan tangan (hlm. 52).

Selama perjalanan tersebut, ia tidak boleh mendiami suatu tempat lebih dari tiga hari. Suatu ketika, ia tertidur di bawah pohon besar dan ditabrak oleh lelaki buta. Mata lelaki itulah yang ia ceritakan.

Saya benar-benar terperanjat ketika saya menyadari bahwa ternyata mata laki-laki yang tidak sengaja menumbuk saya ini memiliki mata yang luar biasa indah, dan luar biasa cemerlang. Namun terasa benar, bahwa mata yang luar biasa indah ini sebetulnya nampak kacau-balau (hlm. 54-55).

Cerpen ketiga yang paling saya suka, yaitu “Laki-laki Pemanggul Goni”. Diceritakan ada seorang perempuan yang bernama Karmain yang selalu dimata-matai oleh laki-laki pemanggul goni. Laki-laki tersebut nyata, tapi seolah tidak nyata di mata Karmain karena setiap kali ia disorot dengan mata penuh kebencian dan Karmain turun dari apartemen untuk menyelesaikan masalah (jika memang ada masalah dengan laki-laki itu), laki-laki itu menghilang. Ketika orang-orang ditanya oleh Karmain, tak ada yang pernah melihat sosok itu di jalan.

Tidak tergantung apakah fajar, tengah hari, sore, senja, malam, ataupun selepas tengah malam, mata laki-laki pemanggul goni selalu menyala-nyala bagaikan mata kucing di malam hari, dan selalu memancarkan hasrat besar untuk menghancurkan (hlm. 169).

Penjabaran tersebut dilanjutkan ke halaman berikutnya.

… sambil menembakkan matanya ke arah dirinya. Kendati lampu jalan tidak begitu terang, tampak dengan jelas wajah laki-laki pemanggul goni menyiratkan rasa amarah, dan menantang Karmain untuk turun ke bawah (hlm. 171).

Ketika Mata Berbicara

Dari ketiga cerpen yang menggunakan media mata sebagai pengungkap perasaan dan pikiran,  saya melihat kebenaran yang ingin disampaikan oleh Budi Darma. Bagaimana seekor burung yang menyerang tokoh protagonis, si penarik pedati, tapi akhirnya saling serang dengan tokoh antagonis (kepala preman/penjarah) yang sebenarnya juga menguber si penarik pedati, mengingatkan kita bahwa tak ada baiknya dari sebuah kejahatan, keculasan, kecuali merugi karena di antara mereka sendiri ada pengkhianatan. Kebenaran kedua, seberapapun usaha kita dalam mengubah nasib untuk menebus kesalahan, tidak akan mengubah jalan takdir. Apa yang kita tanam, itulah yang akan kita petik, istilah sederhana itu diungkapkan oleh Budi Darma dengan cara yang lain.

Cerpen ketiga memiliki pesan yang sangat mendalam, lebih dalam dari cerpen-cerpen yang lain. Manusia, takut dengan dosa, takut dengan Tuhan. Tapi, ia lebih takut lagi ketika dibenci manusia-Nya. Hidupnya tak pernah tenang, tidak tenteram. Untuk menghilangkan ketakutan itu, kemudian orang menciptakan pendosa, meskipun orang-orang itu sebenarnya tak benar-benar memiliki kesalahan. Piring hitam kemudian berputar untuk mencari siapa benar siapa salah, siapa berani berteriak siapa berani bertindak. Dan, apakah yang kemudian terjadi? Keduanya menjadi pendosa karena berusaha saling injak.

[1] Mengutip istilah yang digunakan Agus Noor dalam acara diskusi buku Hotel Tua pada 19 April 2017 di Bentara Budaya Yogyakarta yang diadakan oleh Penerbit Buku Kompas.

Iklan

2 thoughts on “Hotel Tua, Pengungkapan Kebenaran ala Budi Darma

Katakan Sesuatu Tentang Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s