Tetralogi Dangdut yang Lahir Prematur: Mala (2)

Mala yang merupakan bagian kedua dari Tetralagi Dangdut telah bermanuver sangat jauh, meninggalkan Nora yang hadir dengan malu-malu dan basa-basi. Seperti yang sudah dikatakan di bagian akhir tulisan resensi Nora, bahwa apabila dalam kisah cinta, Nora bisa saja dianggap selesai. Namun sebagai peristiwa politik, ia belum apa-apa. Peristiwa yang diceritakan dalam novel ini bukan lagi mengenai lika-liku cinta seorang pribadi yang mengacaukan hidupnya, tetapi melawat ke kehidupan banyak orang, dalam sebuah perusahaan media massa ternama di Jakarta, yang memporak-porandakan kepribadian dan ideologi. Continue reading “Tetralogi Dangdut yang Lahir Prematur: Mala (2)”

Iklan

Tetralogi Dangdut yang Lahir Prematur: Nora (1)

Nora mewakili perempuan yang tak beraturan. Ia tak berkehendak, tetapi sekaligus berkehendak. Ia tak terikat oleh peraturan, yang ada hanya dirinya dengan dunia yang diciptakannya. Karena sikapnya, Nora dianggap gila, tolol, dungu, dan tak pernah dianggap waras oleh siapa pun, kecuali Mala. Continue reading “Tetralogi Dangdut yang Lahir Prematur: Nora (1)”

Tentang Tetralogi Dangdut

Setelah sekian lama vakum dari toko buku (novel terbitan tahun 2018 yang telah saya baca baru Aroma Karsa), kemarin saya kembali menyambangi Togamas Jl. Affandi. Ternyata hari itu Si Toga baru mengubah tata letak. Jenis novel ditata untuk menyambut pengunjung; buku teks, referensi, dan wacana di bagian belakang; sementara ATK di bagian utara-tengah.

Tapi, sebenarnya, bukan itu yang ingin saya sampaikan. Hal yang ingin saya sampaikan terkait dengan penerbitan ulang tetralogi Dangdut karya Putu Wijaya.

Sejak awal, sejarah munculnya buku ini di publik memang terbilang unik. Buku satu dan dua sudah saya dapat dengan jarak tujuh bulan, di tahun 2012. Padahal, buku pertama terbit tahun 2007 dan buku kedua terbit tahun 2008. Keduanya diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas. Setelah itu, saya tidak mendapatkan buku ketiga dan keempat hingga sekarang. Jadi, statusnya baru dwilogi.

Masalahnya, ketika belum ditemukannya novel bagian ketiga dan keempat, sudah muncul lagi sampul baru dengan penerbit baru, Basa Basi, di tahun 2017 (dan saya baru mencermatinya ada di toko buku pada 2018). Loh, memangnya ada masalah kalau Basa Basi menerbitkan lagi? Tentu saja tidak. Yang menjadi masalah adalah penggantian judul (atau versi [?]) yang ternyata sama sekali berbeda dengan versi pertama. Bahkan, versi yang terbit belakangan ini justru lengkap: Dangdut (tetralogi Dangdut bagian 1), Nora (tetralogi Dangdut bagian 2), Mala (tetralogi Dangdut bagian 3), dan Indonesia (tetralogi Dangdut bagian 4).

Sudah sejak lama saya menunda untuk mengulas salah satu bagian dari tetralogi Dangdut, baik Nora maupun Mala, karena saya ingin menyelesaikan keempatnya. Tetapi, karena kini muncul fenomena yang tak terduga ini, saya ingin sedikit mengulas kedua novel tersebut secara singkat, baru kemudian mengulas perbedaaan versi kedua penerbit. Jadi, ulasan ini pun akan bersekuel, yaitu Tetralogi Dangdut yang Lahir Prematur: Nora (1), Tetralogi Dangdut yang Lahir Prematur: Mala (2), dan Tetralogi Dangdut yang Lahir Prematur (?).

Pandangan Barat tentang orang Jawa dalam Novel Dasamuka karya Junaedi Setiyono

Willem namanya. Ia mahasiswa Universitas Edinburgh yang memutuskan untuk menjadi bagian dari tentara Inggris yang akan mendarat ke Indonesia pada awal abad ke-19, tepatnya tahun 1811. Jika biasanya seseorang masuk menjadi tentara karena profesi atau hasrat berkuasa, ia datang untuk mati. Namun takdir berkata lain. Ia tidak segera mati untuk melupakan tunangannya, Ailsa, yang akan menikah dengan ayah kandungnya, Jeremias Kappers. Justru ia terlibat kerja sama dengan John Crawfurd, ilmuwan yang menulis tentang sejarah Nusantara―History of the East Indian Archipelago. Ia tidak hanya terlibat dalam kerja ilmuwan, tetapi juga terlibat dalam rencana pembunuhan Raja Jawa, Sri Sultan Hamengkubuwono IV! Continue reading “Pandangan Barat tentang orang Jawa dalam Novel Dasamuka karya Junaedi Setiyono”

Hotel Tua, Pengungkapan Kebenaran ala Budi Darma

 

Banyak orang, terutama yang kaya, tidak bisa membebaskan diri dari kerinduan masa lampau (Budi Darma, dalam Hotel Tua)

Pada 25 April 2017, adalah penanda genap 80 tahun usia Budi Darma, seorang maestro sastra Indonesia angkatan ’70. Hotel Tua mungkin adalah kado untuk dirinya, sebagai pengingat masa mudanya di luar negeri. Dalam usianya yang senja, profesor tersebut terus menginspirasi anak generasi untuk terus berkarya. Continue reading “Hotel Tua, Pengungkapan Kebenaran ala Budi Darma”

Siti Zaitun dan Pasar: Sosok Perempuan Berkeadilan

…. Sebentar lagi engkau akan menjadi orang lain, Nak. Setiap orang harus sadar akan kedudukannya. Tukang gerobak boleh tertawa keras. Tetapi seorang kepala pasar tidak. Seorang guru tidak. Lagi pula yang penting, ingatlah bahwa kau orang Jawa. Ketika engkau gembira, ingatlah pada suatu kali kau akan mendapat kesusahan. Apalagi menertawakan nasib buruk orang lain, Nak. Jangan sekali-kali, jangan. Orang yang berpangkat harus berbuat baik, suka menolong. …

(Kuntowijoyo)

Continue reading “Siti Zaitun dan Pasar: Sosok Perempuan Berkeadilan”

Jungkir-Balik Dunia Olenka

Olenka, satu-satunya tokoh perempuan yang menjadi objek cerita bagi Fanton Drummon, maupun Wayne Danton—dua laki-laki yang diperbudak oleh Olenka, dua laki-laki yang gagal memiliki Olenka.

Fanton Drummon, laki-laki yang sejak awal cerita paling banyak mengoceh, seolah dia tahu segalanya, dan dia dapat mengendalikan segalanya. Namun, sayangnya apa yang dia lakukan hanya sebuah kemandulan.

Wayne Danton, pengarang produk-gagal yang selalu percaya diri di atas kekalahan dan kegagalannya. Continue reading “Jungkir-Balik Dunia Olenka”

Ryunosuke: Keyakinan dalam Bingkai Cerita

 

Kumpulan cerpen Cinta Tak Pernah Mati diawali oleh cerpen karya Ryonosuke Akutagawa, pengarang legendaris dari Jepang. Ceritanya sangat singkat, juga padat. Hanya dua tokoh yang disebutkan di dalamnya. Sang Budha dan Kandata. Cerpen yang sangat sederhana ini menceritakan dunia setelah mati. Saya langsung menjurus cerpen ini sebagai kategori cerpen religi−bercerita tentang kebaikan dan keburukan di mata Tuhan. Continue reading “Ryunosuke: Keyakinan dalam Bingkai Cerita”

Dimensi Petualangan Zarah

 

Setelah menanti cukup lama episode Supernova, akhirnya saya dapat memiliki buku tersebut. Tidak seperti tiga episode sebelumnya, Partikel sungguh membuat saya tercengang dan tidak berhenti untuk membacanya. Dimulai jam tiga sore di perpustakaan, pulang kemudian mandi, dan baru tidur jam tiga pagi. Komplitnya, butuh waktu minimal 10 jam. Saya sama sekali tidak letih membaca buku ini, dan setelah selesai pun, tak memberikan dampak negatif terhadap tubuh.

Continue reading “Dimensi Petualangan Zarah”